Kehadiran televise swasta sebagai televise komersial tentu saja bertujuan untuk meraih keuntungan. Sumber pemasukan dana terbesar untuk televise swasta adalah dengan menjual jam tayang untuk iklan.
Iklan, terutama yang muncul di televise, memang sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan perilaku. Hasil penelitian Irma dan John (2002) menyimpulkan bahwa, pengulangan pesan iklan cukup berpengaruh dalam menarik perhatian, menimbulkan rasa tertarik, keinginan dan mendorong konsumen untuk melakukan tindakan pembelian. Pranowo (2002) dalam penelitiannya, menyimpulkan bahwa, iklan berpengaruh pada pola konsumsi anak. Fatimah Riswati (2004), mengatakan dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan diperoleh bahwa, keputusan dalam memutuskan barang-barang yang akan dibeli sering dipengaruhi oleh iklan-iklan yang ditayangkan di berbagai media. Oleh karenanya iklan kemudian menjadi mesin produksi pesan yang ampuh bagi pelaku usaha. Iklan berubah fungsi menjadi alat untuk meyakinkan konsumen bahwa produk yang mereka ciptakan benar-benar merupakan apa yang diinginkan konsumen.
Erick Meijer (2002) mengatakan, bagi penggagas iklan harus benar-benar yakin bahwa iklan yang mereka ciptakan berbeda dengan pengiklan yang lain, dan harus muncul sebagai pemenang diantara sekian banyak iklan, hal yang lain yang juga harus diperhatikan oleh pengiklan, bahwa iklan yang mereka sampaikan jangan sampai menggaggu para konsumen yang menyaksikannya, mendengarkannya, atau membacanya, karena yang menentukan sebuah iklan etis atau tidak adalah konsumen. Dengan kata lain diterima atau ditolaknya sebuah iklan adalah pihak konsumen. Lanjut Erick Meijer, salah satu tujuan iklan secara umum adalah tercapainya positive response (tanggapan yang positip), dapat diwujudkan dengan menciptakan iklan yang berkualitas, yang akhirnya menjadi iklan yang disenangi oleh konsumen. Ironisnya seringkali apa yang diharapkan oleh pengiklan, justru berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Disinilah kemudian tercipta konflik antara pengiklan dengan masyarakat pemerhati media.
Iklan yang disampaikan kepada masyarakat melalui televisi akan memberikan umpan balik (tanggapan) yang beragam. Tanggapan langsung dari sesuatu, atau merupakan proses seseorang mengenai beberapa hal melalui panca inderanya di sebut persepsi. Sedangkan Mawon mengatakan bahwa, persepsi sebagai suatu proses dimana individu-individu terekspos oleh informasi, menyediakan kapasitas prosesor yang lebih luas, dan menginterpretasikan informasi tersebut.
Sebuah penelitian, pendapat umum pemirsa tentang periklanan televise dan konsekuensinya (Indah Rini dkk, 2003) menghasilkan: persepsi pemirsa terhadap konsekuensi periklanan ditelevisi adalah setuju bahwa iklan menjadi sumber iformasi tentang penjualan local, tentang merek yang diinginkan konumen, dan tentang produk yang tersedia dipasar. Pemirsa percaya bahwa iklan memberikan hiburan dan membuat perasaan senang namun dapat menciptakan masyarakat yang materialistis. Sisi negatif iklan adalah dapat mengeksploitasi dengan mengambil keuntungan yang tidak pantas dari anak-anak dan menuntut anak-anak untuk melakukan permintaan pembelian yang tidak masuk akal pada orang tuannya. Selain itu, membuat orang membeli sesuatu dengan mudahnya, menurut persepsi pemirsa tidak setuju terhadap konsekuensi bahwa iklan ditelevisi membuat orang membeli produk yang tidak perlu, hanya untuk pamer. Hasil penelitian berikutnya adalah pengaruh terpaan iklan televise terhadap perilaku konsumtif ibu rumah tangga di Kota Padang Sumatra Barat (Susi Evina, dkk) menghasilkan bahwa, iklan berpengaruh signifikan terhadap sikap pemirsa ibu rumah tangga pada produk yang ditayangkan televise.
Apa yang diungkapkan dua peneliti di atas merupakan sebuah potret tentang persepsi masyarakat terhadap iklan televise. Pada peneliti pertama adalah pendapat umum yang tidak membedakan jenis kelamin, sedangkan pada peneliti kedua adalah pendapat umum jenis kelamin wanita. Penelitian yang lebih mendalam dan lengkap masih sangat diperlukan untuk mengetahui persepsi dan perilaku dari kelompok masing-masing masyarakat terhadap iklan televise. Secara teoritis, adanya perbedaan latar belakang demografis akan berpengaruh terhadap bagaimana merespon sesuatu, hal ini cukup beralasan karena diduga, respon dari setiap kelompok orang pada obyek yang sama berbeda-beda.
Penelitian ini mempertajam, mengenai: (1) bagaimanakah persepsi pemirsa pria dan wanita terhadap Iklan yang di tayangkan di televise? ; (2) Apakah ada perbedaan antara persepsi pemirsa pria dan pemirsa wanita terhadap atribut iklan yang di tayangkan di televise?
Tujuan yang ingin dicapai dengan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi pemirsa pria dan wanita terhadap iklan yang ditayangkan di televise, dan mengetahui perbandingan antara persepsi pemirsa pria dan wanita terhadap atribut-atribut iklan yang ditayangkan di televise.
II. METODE PENELITIAN
III. LANDASAN TEORI
IV. HASIL PENELITIAN
V. KESIMPULAN
kesimpulan menunjukan bahwa:
1. Terdapat 5 profil utama dari pemirsa televise, yaitu jenis kelamin dominan pria ;Usia pria dominan <25 tahun, sedangkan usia wanita dominan >35 tahun; Pekerjaan pria dominan karyawan swasta, sedangkan pekerjaan wanita dominan pegawai sawasta; Pendidikan pria dominan lulusan terakhir SMU, sedangkan pendidikan wanita dominan sarjana; Penghasilan pria dominan > 1 juta, sedangkan penghasilan dominant wanita 500-1 juta. persepsi pemirsa berdasarkan jenis kelamin pria terhadap iklan yang ditayangkan di televisi sebagian besar memiliki persepsi netral, sedangkan persepsi pemirsa berdasarkan jenis kelamin wanita terhadap iklan yang ditayangkan di televisi sebagian besar memiliki persepsi setuju.
2. Terdapat persamaan persepsi, antara pemirsa jenis kelamin pria dan jenis kelamin wanita terhadap atribut iklan mengganggu, dikatagorikan tinggi.
3. Terdapat perbedaan persepsi, antara pemirsa jenis kelamin pria dan jenis kelamin wanita terhadap atribut iklan hiburan, dikatagorikan sedang untuk jenis kelamin pria, sedangkan untuk jenis kelamin wanita dikatagorikan tinggi.
4. Terdapat perbedaan persepsi, antara pemirsa jenis kelamin pria dan jenis kelamin wanita terhadap atribut iklan informasi tentang produk , dikatagorikan sedang untuk jenis kelamin pria, sedangkan untuk jenis kelamin wanita dikatagorikan tinggi.
5. Terdapat perbedaan persepsi, antara pemirsa jenis kelamin pria dan jenis kelamin wanita terhadap atribut iklan mempengaruhi perilaku wanita konsumtif, dikatagorikan sedang untuk jenis kelamin pria sedangkan untuk jenis kelamin wanita dikatagorikan tinggi .
6. Terdapat persamaan prsepsi, antara pemirsa jenis kelamin pria dan jenis kelamin wanita terhadap atribut iklan mempengaruhi perilaku pria konsumtif, dikatagorikan tinggi.
7. Model iklan yang diperankan artis, 54% pemirsa menjawab menarik; Iklan lucu, 53% pemirsa menjawab menarik; Iklan pelayanan masyarakat, 79% pemirsa menjawab diperlukan; Waktu luang melihat acara televise, 41% pemirsa menjawab malam hari; Acara pilihan televise paling disenangi, 43% pemirsa menjawab sinetron.
DAFTAR PUSTAKA
A. Shipe Tempu, Advertising And Supplementl Aspect Of Integrated Marketing Communications, 5 TH Ed, University Of South Carolina..
Erick Meijer, (2002), Belajar Etika Periklanan Dari Telekomsel, Manajemen, Agustus.
Fatimah, (2004), Pengaruh iklan terhadap perilaku konsumerisme ibu-ibu rumah tanggga, Jurnal Ekonomi, Vol 8, No 1, Januari, Malang: FE-UNMER.////
Indah Rini dkk, (2003), Pendapat Umum Pemirsa Tentang Periklanan Televisi dan Konsekuensinya, Jurnal Study Bisnis, Vol 1, No 2, Desember, Yogyakarta:FE UAJ.
Irma Satya Indriyani, dan John, (2002), Pengulangan Pesan Suatu Iklan Dalam Prosese Pembelajaran Konsumen, Jurnal Ekonomi dan Bisnis (Dian Ekonomi), Vol.VIII No. I Maret.
Pranowo, (2002), Pengaruh Iklan Terhadap Pola Konsumsi Anaka Di Daerah Istimewa Yogyakarta, FE-UCY.
Rhenald Kasali, (2000), Membidik Pasar Indonesia”STP”, Cetakan Kelima, PT Gramedia, Jakarta.
Susi Evanita dkk, ( ), Pengaruh terpaan iklan televise terhadap perilaku konsumtif ibu rumah tangga di Kota padang Sumatra barat,